Jusri Pulubuhu, pakar keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyebut bahwa sistem contraflow termasuk sangat berbahaya
Setiap musim mudik Lebaran, volume kendaraan di jalur tol meningkat secara signifikan. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, pihak kepolisian biasanya menerapkan sistem rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way.
Meskipun terbukti efektif mengurai kepadatan, kedua sistem ini ternyata menyimpan risiko yang cukup besar bagi keselamatan pengendara. Oleh sebab itu, penting bagi pemudik untuk memahami potensi bahaya sebelum melintasi jalur dengan rekayasa tersebut.
Jusri Pulubuhu, pakar keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyebut bahwa sistem contraflow termasuk sangat berbahaya. Ia menjelaskan bahwa batas pemisah antara jalur berlawanan dalam sistem ini sangat tipis dan kurang memadai.
Pada umumnya, contraflow diterapkan di jalan tol saat arus kendaraan sudah tidak lagi bisa diurai dengan cara biasa. Dalam skema ini, sebagian lajur dari arah berlawanan digunakan oleh kendaraan menuju satu arah.
Biasanya, pihak kepolisian hanya memasang cone sebagai pembatas jalur antara kendaraan yang melaju ke arah berbeda. Sayangnya, pembatas tersebut tidak cukup kuat menahan jika terjadi insiden seperti kendaraan oleng atau kehilangan kendali.
Menurut Jusri, potensi terjadinya tabrakan frontal atau adu kambing menjadi ancaman serius dalam sistem contraflow. Terutama ketika kendaraan dari arah sebaliknya melaju dengan kecepatan tinggi dan pengemudi kehilangan konsentrasi.
Selain risiko tabrakan, sistem contraflow juga memberi tekanan psikologis yang tinggi pada pengemudi. Jalur yang sempit dan tidak biasa membuat banyak pengemudi merasa stres dan kelelahan mental.
Jadwal contraflow dan one way arus balik lebaran 2025
Apalagi jika jalur contraflow yang dilalui sangat panjang, kondisi mental pengemudi bisa semakin terganggu. Keadaan ini tentunya memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan.
Pada musim mudik tahun ini, polisi sudah mulai memberlakukan sistem rekayasa lalu lintas untuk mengurai kemacetan. Salah satu yang sudah diterapkan adalah contraflow di Tol Cipali mulai Km 109 sampai Km 132, serta Km 162 sampai Km 169.
Sementara itu, skema one way juga diberlakukan untuk mendukung kelancaran arus kendaraan pemudik. Jalur ini diterapkan dari Km 70 Tol Cikampek hingga Km 188 Tol Cipali dengan arah menuju Jawa Tengah.
Jusri menjelaskan bahwa perjalanan melalui contraflow tidak hanya menuntut kewaspadaan tinggi, tapi juga bisa menyebabkan kelelahan lebih cepat. Karena itu, ia menyarankan agar pengemudi mempertimbangkan jalur alternatif.
Jika memungkinkan, pilihlah jalur utama (original lane) atau keluar dari tol dan melanjutkan perjalanan melalui jalan nasional. Meski waktu tempuh lebih lama, tingkat keselamatan dan kenyamanan cenderung lebih tinggi.
“Tidak usah takut melewati jalan non-tol saat musim mudik,” ujar Jusri dalam wawancara. Menurutnya, justru jalan tol akan lebih padat karena menjadi pilihan utama para pemilik kendaraan pribadi.
Sementara itu, sistem one way juga bukan tanpa risiko dan perlu diantisipasi dengan serius. Jusri menilai bahwa banyak pengemudi yang belum terbiasa menghadapi lalu lintas satu arah dalam skala besar.
Secara psikologis, pengemudi bisa merasa bingung atau ragu-ragu saat ingin bermanuver di jalur one way. Rasa tidak yakin ini dapat menimbulkan reaksi lambat yang berbahaya di jalan tol.
Selain itu, sistem one way memiliki kekurangan dari sisi akses darurat yang terbatas. Biasanya, fasilitas seperti jalur darurat atau bahu jalan berada di sisi kiri, tetapi dalam one way, posisinya bisa berpindah ke kanan.
Jika terjadi situasi darurat seperti kendaraan mogok atau ban pecah, pengemudi mungkin akan kesulitan menepi. Hal ini tentu menjadi kendala besar yang perlu dipertimbangkan sebelum melewati jalur tersebut.
Jusri juga menyoroti masalah posisi rest area dalam sistem one way yang berada di sisi kanan. Butuh waktu dan adaptasi agar pengemudi terbiasa dengan posisi baru tersebut.
Menurutnya, penting bagi pengemudi untuk selalu memperhatikan rambu dan petunjuk arah dengan saksama. Kesalahan membaca rambu bisa berujung pada tindakan yang membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.
Sebelum bepergian, sebaiknya pengemudi mencari informasi terkini mengenai rekayasa lalu lintas yang sedang diberlakukan. Aplikasi navigasi digital dan informasi dari kepolisian bisa menjadi panduan yang sangat membantu.
Di samping itu, kesiapan fisik dan kendaraan juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima, mulai dari rem, ban, oli mesin, hingga lampu-lampu.
Bagi pengemudi yang merasa kelelahan, istirahat secara berkala di rest area adalah solusi bijak. Jangan memaksakan diri mengemudi dalam kondisi mengantuk karena bisa membahayakan banyak pihak.
Keselamatan selama mudik harus selalu menjadi prioritas utama daripada sekadar cepat sampai. Tidak ada gunanya menghemat waktu jika harus mengorbankan keselamatan diri dan keluarga.
Jusri mengingatkan bahwa pilihan jalur alternatif di luar tol bisa menjadi solusi yang lebih aman. Selain menghindari tekanan akibat rekayasa lalu lintas, jalur ini juga kerap lebih lengang dan menyenangkan untuk dilalui.
Pemudik juga diimbau untuk selalu bersabar dan tidak mudah terpancing emosi di jalan. Kondisi lalu lintas yang padat membutuhkan sikap tenang dan kesabaran agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Dengan kesiapan yang baik serta pemahaman terhadap sistem lalu lintas yang diterapkan, mudik bisa dilakukan dengan lebih lancar. Hindari keputusan terburu-buru dan prioritaskan keselamatan setiap saat. (dda)